Sabtu, 05 April 2025

Ngatini, Sukarno, Suminem, Suyati, Tukiman, dan Wakidi (Mendapat Hidayah: Gunung Kelir Menjadi Saksi Pertambahan Saudara Seiman

Gunung Kelir, sebuah wilayah yang tenang di Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi saksi atas sebuah peristiwa yang menggetarkan hati. Dalam suasana penuh kehangatan dan keimanan, enam orang yang sebelumnya memeluk agama Budha dengan mantap mengikrarkan dua kalimat syahadat, menandai awal perjalanan mereka sebagai seorang Muslim.

Peristiwa penuh makna ini terjadi dalam rangkaian Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Yayasan Baitul Maqdis (YBM) Jakarta, Juni 2016. Dengan bimbingan penuh khidmat dari Ustadz Abdur Rasyid serta perwakilan pengurus YBM Kulon Progo, mereka menjalani proses sakral itu dengan tenang dan penuh haru.

Mereka datang kepada Islam dengan hati yang tulus, tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Salah seorang dari mereka bahkan menyatakan bahwa keinginan memeluk Islam telah lama terpendam dalam hatinya, namun baru kali inilah ia benar-benar mantap mengambil langkah besar dalam hidupnya—memeluk agama tauhid, Islam.

Kini, setelah mengikrarkan syahadat, keenam muallaf tersebut akan menjalani proses pembinaan dan pendampingan dari Yayasan Baitul Maqdis perwakilan Kulon Progo. Mereka akan bergabung bersama para muallaf lainnya yang lebih dulu menapaki jalan hidayah, untuk belajar dan memperdalam pemahaman agama Islam secara bertahap dan berkesinambungan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan keistiqamahan kepada para muallaf ini, menguatkan hati mereka, dan menjadikan mereka sebagai bagian dari barisan kaum muslimin yang tangguh di Gunung Kelir, Kulon Progo. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Sumber: Allahu Akbar Enam Mantan Budha Bersyahadat di Kulon Progo – Yayasan Baitul Maqdis

SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang: Pilar Pendidikan Islam di Lereng Menoreh

 


Berdiri sejak 1 Agustus 1956, SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam di wilayah perbukitan Menoreh. Sekolah ini awalnya bernama SMP Muhammadiyah Dekso, merujuk pada lokasi pendiriannya di wilayah Dekso, Kalurahan Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo. Berdirinya sekolah ini didasarkan pada Surat Keputusan Piagam Pendirian Perguruan Muhammadiyah Nomor 3130/M-644/DIY-56/77.

Menjadi Benteng Dakwah Melalui Pendidikan

Pendirian sekolah ini bukan semata untuk tujuan pendidikan umum, tetapi juga sebagai bentuk perjuangan dakwah Muhammadiyah dalam membendung arus kristenisasi yang terjadi di wilayah Banjarasri dan sekitarnya pada masa itu. Sebagaimana tercatat dalam literatur sejarah, misi Katolik yang dipelopori oleh Romo JB Prannthaler SJ saat itu telah menancapkan pengaruh yang cukup luas di kawasan Menoreh. Namun, dengan tekad yang kuat, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah untuk melawan arus tersebut. Sekolah pertama yang didirikan adalah SD Muhammadiyah Degan, dan kemudian berkembang hingga berdirinya SMP Muhammadiyah Dekso pada 1956, serta SMEA Muhammadiyah Dekso (kini SMK Muhammadiyah Kalibawang) pada tahun 1971. Di antara pendiri SMP Muhammadiyah Dekso adalah H. Sasrto Sorok (dikenal dengan Haji SS), Dwijosarono, Sir Martowiiarjo), dan R. Marto Wiruno,



Perjalanan Nama dan Identitas

Seiring dengan kebijakan nasional, nama sekolah sempat berubah dari SMP Muhammadiyah Dekso 1 menjadi SLTP Muhammadiyah 1 Kalibawang, sebelum akhirnya kembali menggunakan nama resmi SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang berdasarkan SK Majelis Dikdasmen PWM DIY Nomor 06/KET/II.4/B/2010 tanggal 22 November 2010. Nama ini tidak hanya menegaskan identitas, tetapi juga komitmen untuk terus berperan dalam pembangunan pendidikan di wilayah Kalibawang dan sekitarnya.

Visi dan Misi: Membangun Pelajar Pancasila Berkarakter Islami

Dengan visi besar:
"Terwujudnya Pelajar Pancasila Yang Terdidik, Mandiri, Terampil Dan Berkarakter Islami",
SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang menjalankan misi pendidikan yang meliputi:

  1. Penguatan iman dan takwa dalam pembelajaran;
  2. Pengembangan kompetensi akademik dan non-akademik;
  3. Peningkatan standar kelulusan;
  4. Profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan;
  5. Pelatihan keterampilan hidup (lifeskill) dan wirausaha;
  6. Penyediaan sarana-prasarana sesuai SNP;
  7. Pembelajaran berbasis IPTEK;
  8. Penguatan budaya bersih dan peduli lingkungan.

Menjadi Pelajar Berkemajuan

SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang berkomitmen menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara sosial dan spiritual. Kami membentuk pelajar yang berdaya saing global, tetapi tetap teguh pada nilai-nilai lokal dan religius.

Dengan lingkungan belajar yang suportif dan inspiratif, siswa tidak hanya didorong untuk berprestasi, tetapi juga diarahkan untuk memiliki karakter dan kepercayaan diri yang tinggi dalam menghadapi dunia nyata.

Ekskul Berbasis Nilai, Budaya, dan Keterampilan

SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang juga membina berbagai kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana pengembangan minat dan bakat siswa, antara lain:

  • Seni Baca Al Qur’an, Tahfizh, dan BTQ, dibimbing langsung oleh para ustadz-ustadzah berprestasi hingga tingkat nasional;
  • Pencak Silat Tapak Suci, sebagai warisan budaya dan penguat karakter melalui bela diri Islami;
  • Kemataraman, sebagai bagian dari pelestarian budaya Mataram Yogyakarta, menanamkan nilai-nilai adat, tradisi, dan tata krama luhur.

Bergabunglah Bersama Kami

SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang membuka pintu bagi para siswa dan orang tua yang mendambakan pendidikan dengan akar budaya, dasar agama, dan visi masa depan. Pendidikan bukan hanya tentang nilai rapor, tetapi juga tentang jati diri, keterampilan hidup, dan karakter Islami yang menjadi bekal utama menapaki masa depan.

Mari menjadi bagian dari pelajar berkemajuan.
Mari tumbuh dan berkembang bersama SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang.

Kepala Sekolah

Beberapa nama sempat menjadi kepala SMP Muhammadiyah 1 Kalibawang

  • H. Sukardi AR (terakhir purna tugas sebagai Kepala TU Kantor Depag Kulon Progo)
  • Drs. H. Bardi Siswoyo (terakhir purnatigas sebagai guru geografi di SMAN 1 Kalibawang)
  • Drs. Edy Sutarjo
  • Sri Sumarni, S.E., Akt. (sekarang)

Guru

Dari berdirinya hingga sekarang banyak yang pernah menjadi guru SMP ini seperti

  • Gunarto, Drs.,
  • Kasil Subekti, SH. H. (terakhir sebagai Kabag Pemerintah Kabupaten Kulon Progo)
  • Mardisantoso, Drs. H. (terakhir sebagai lurah banjarasri)
  • Nurhayati, Drs. Hj.
  • Partono, Drs., (terakhir sebagai Kepala SD Negeri)
  • Rekat, BA
  • Rinto Subronto, H, Drs (terakhir sebagai Kasi di Kanwil Kemenag DIY)
  • Sarjo, Drs., H. (terakhir sebagai guru di SMAN 1 Wates)
  • Subiyantoro, Prof., Dr., Drs, H., M.Ag (terakhir sebagai dosen Paskasarjana UIN Sunan Kalijaga)
  • Sugiyono (terakhir sebagai perangkat desa Banjarasri)
  • Sukirno, BcHK (terakhir sebagai gur SMP Muhammadiyah Nanggulan)
  • Sumanto, SH., (terakhir sebagai Kepala Kantor Pembentu Bupati Selatan)
  • Sunardi (terakhir sebagai Ketua PAC NU Nanggulan)
  • Sunardi, Drs.
  • Supadmi, S.Pd
  • Suwarto, Drs., (yerakhir sebagai Kepala SMA Muhammadiyah Kenteng)
  • Triyanto, S.Pd (terakhir sebagai guru SMKN Girimulyo)
  • Tugiyati, S.Pd
  • Ujang Miskun, Drs
  • UKhti Jam’iati, Drs. Hj., M.Ag (terakhir sebagai Pengawas MA Kemenag Kulon Progo)
  • Wagimin, S.Pd
  • Wakijo (Terakhir sebagai guru agama di SDN)
  • Wakijo, Drs.,
  • Warsono Drs. (terakhir sebagai Kepala SD Muhammadiyah di Yoguakarta)

Ferenc Raymond Sahetapy

 


Ferenc Raymond Sahetapy (1 Januari 1957 – 1 April 2025) adalah seorang aktor dan penyanyi Indonesia. Dikenal luas sebagai salah satu pemeran paling disegani di generasinya, Ray kerap membawakan peran-peran pria kompleks dengan karakter yang dalam dan penuh nuansa. Kariernya di dunia seni peran membentang lebih dari empat dekade, dan penampilannya dalam film-film drama seperti Ponirah Terpidana (1983), Tatkala Mimpi Berakhir (1987), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990) dianggap sebagai yang paling mengesankan dalam kariernya. Ray menerima tujuh nominasi Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia, enam di antaranya dalam kategori Aktor Terbaik—sebuah rekor untuk nominasi terbanyak dalam kategori tersebut tanpa kemenangan.

Kehidupan Awal

Ray menghabiskan masa kecilnya di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia, Surabaya. Sejak remaja, ia sudah menaruh minat besar pada dunia akting. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia melanjutkan studi ke Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977, satu angkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok.

Karier

Ray memulai debut filmnya lewat Gadis (1980) yang disutradarai oleh Nya’ Abbas Akup. Di film inilah ia bertemu dengan penyanyi dan aktris Dewi Yull, yang kemudian menjadi istrinya.

Pada tahun 1985, Ray mencoba peruntungan di dunia tarik suara dan merilis album solo berjudul Say.... Dua singel utamanya, "Satu Kenyataan Lagi" dan "Say…", dinyanyikannya berduet dengan Dewi Yull dan cukup mendapat sambutan.

Karier filmnya terus berkembang. Ia dinominasikan sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1989 lewat Noesa Penida (1988). Selain itu, ia tercatat menerima nominasi FFI atas perannya dalam Ponirah Terpidana (1984), Secangkir Kopi Pahit (1985), Kerikil-Kerikil Tajam (1985), Opera Jakarta (1986), Tatkala Mimpi Berakhir (1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990).

Di masa vakumnya industri perfilman nasional, Ray tetap aktif di dunia seni peran. Ia mendirikan sanggar teater di pinggiran kota dan membentuk komunitas seni. Lewat sanggar ini pula, Ray pernah mengemukakan ide kontroversial tentang perlunya mengganti nama "Republik Indonesia" menjadi "Republik Nusantara".

Ray kembali ke layar lebar pada 2006 lewat film Dunia Mereka. Di tahun yang sama, ia terpilih sebagai salah satu ketua dalam Kongres Persatuan Artis Film Indonesia.

Kehidupan Pribadi

Ray menikah dengan Dewi Yull pada 16 Juni 1981. Pernikahan itu sempat menjadi sorotan karena perbedaan agama dan tidak mendapat restu dari orang tua Dewi. Tak lama setelah pernikahan, Ray memutuskan menjadi mualaf pada tahun yang sama. Pasangan ini dikaruniai empat anak: Giscka Putri Agustina Sahetapy (1982–2010), Rama Putra Sahetapy (1991), Surya Sahetapy (1993), dan Muhammad Raya Sahetapy (2001).

Namun, pernikahan mereka berakhir pada 24 Agustus 2004. Dewi Yull menggugat cerai Ray setelah menolak keinginan Ray untuk berpoligami.

Pada Oktober 2004, Ray menikah lagi dengan Sri Respatini Kusumastuti, seorang pengusaha kafe dan katering yang juga pernah mengajar di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta. Dari hubungan sebelumnya, Sri memiliki dua anak.

Ray juga dikenal sebagai pemimpin organisasi Perhimpunan Seniman Nusantara, yang aktif memajukan dunia seni budaya Indonesia.

Kematian

Ray Sahetapy meninggal dunia pada 1 April 2025 di usia 68 tahun akibat penyakit stroke yang telah lama dideritanya.

 

Senin, 31 Maret 2025

Ida Bagus Erit Budi Finarno: Konsep dalam Al-Qur'an Miliki Keselarasan dengan Nilai-nilai Ketuhanan

 Ida Bagus Erit Budi Finarno lahir dalam keluarga Brahmana di Tabanan, Bali, yang dikenal sebagai penjaga ajaran dan ritual Hindu. Sebagai bagian dari keluarga yang memiliki garis keturunan pendeta, sejak kecil ia dididik dalam nilai-nilai Hindu dan mendalami ajaran Weda, kitab suci agama Hindu.

Pendidikan awalnya ditempuh di lingkungan yang kental dengan tradisi Hindu. Ia menjalani pendidikan agama secara intensif, termasuk belajar tentang filosofi, ritual, serta berbagai aspek spiritual dalam Hindu. Pemahamannya yang mendalam membawanya menjadi seorang pemuka agama yang dihormati di komunitasnya.

Namun, di tengah pencariannya akan makna hidup dan kebenaran hakiki, ia mulai menggali ajaran agama lain, termasuk Islam. Dalam perjalanannya, ia menemukan bahwa banyak konsep dalam Al-Qur'an memiliki keselarasan dengan nilai-nilai ketuhanan yang ia yakini. Rasa ingin tahunya semakin besar, dan ia mulai mempelajari Islam lebih mendalam.

Setelah melalui proses perenungan panjang, pada tahun 1995, Ida Bagus Erit Budi Finarno memutuskan untuk memeluk Islam. Keputusan ini bukan hal yang mudah karena ia berasal dari keluarga Brahmana yang sangat kuat memegang tradisi Hindu. Namun, keyakinannya terhadap Islam semakin menguat setelah memahami ajaran tauhid yang menegaskan keesaan Allah.

Setelah masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdul Aziz dan mulai aktif dalam dunia dakwah. Dengan pengalaman dan wawasan mendalamnya tentang agama Hindu, ia sering berdialog dengan berbagai kalangan dan berbagi kisah hijrahnya. Dakwahnya berfokus pada membangun pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta mengajak umat untuk memahami Islam dengan hati yang terbuka.

Hingga kini, Abdul Aziz terus mengabdikan dirinya dalam dakwah dan menjadi inspirasi bagi banyak orang yang tengah mencari kebenaran. Kisah perjalanannya dari seorang pendeta Hindu menuju Islam menjadi salah satu bukti bahwa hidayah bisa datang melalui berbagai jalan, dan pencarian ilmu dapat membawa seseorang pada cahaya kebenaran.

Ruben Onsu: Menemukan ketenangan dan kedamaian dalam Islam

 


Ruben Samuel Onsu, lahir di Jakarta pada 15 Agustus 1983, adalah seorang aktor, pembawa acara, komedian, dan pengusaha ternama di Indonesia. Ia mengawali karier di dunia hiburan sebagai anggota grup lawak Lenong Bocah, kemudian merambah menjadi presenter berbagai acara televisi populer seperti "Supersoulmate Show", "Cari-Cari Pacar", "Belum Cukup Gede", dan "Brownis (Obrowlan Manis)". Selain itu, Ruben juga terjun ke dunia akting dengan membintangi film seperti "Tina Toon dan Lenong Bocah" (2004) dan "Anda Puas, Saya Loyo" (2008). Di bidang bisnis, ia dikenal sebagai pendiri jaringan restoran Geprek Bensu yang memiliki cabang di seluruh Indonesia. ​Wowkeren+4Inilah+4Tuan Guru+4Dailysia+1IDN Times+1IDN Times+1BiografiKu+1Dailysia+2Wikipedia Indonesia+2Home - KUYOU.ID - News Millenial | Gen Z+2

Dalam kehidupan pribadi, Ruben menikah dengan Sarwendah Tan, mantan anggota grup vokal Cherrybelle, pada 22 Oktober 2013. Pasangan ini dikaruniai dua anak kandung, Thalia Putri Onsu dan Thania Putri Onsu, serta mengadopsi Betrand Peto Putra Onsu sebagai anak angkat. ​Riwayatmu+8Wikipedia Indonesia+8BiografiKu+8Inilah+2Riwayatmu+2Home - KUYOU.ID - News Millenial | Gen Z+2

Baru-baru ini, Ruben Onsu mengumumkan bahwa ia telah memeluk agama Islam. Keputusan ini diambil setelah melalui proses pencarian spiritual yang mendalam, di mana ia menemukan ketenangan dan kedamaian dalam Islam. Ruben menyatakan bahwa keputusannya untuk menjadi mualaf tidak terkait dengan permasalahan rumah tangganya sebelumnya. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada beberapa sahabat, termasuk Habib Usman dan Lesti Kejora, yang telah mendukung perjalanannya menuju Islam. ​Antara Newshttps://celebrity.okezone.com/+3suara.com+3suara.com+3Haibunda

Perjalanan spiritual Ruben mencapai puncaknya saat ia melaksanakan salat Idul Fitri pertamanya sebagai seorang Muslim, ditemani oleh sahabatnya, Ivan Gunawan. Momen tersebut diabadikan dalam foto yang menunjukkan keduanya mengenakan baju koko dan peci, berpose di dalam masjid bersama jamaah lainnya. ​Antara News

Keputusan Ruben untuk memeluk Islam menambah daftar selebriti Indonesia yang memilih jalan serupa, menunjukkan bahwa pencarian spiritual dapat membawa seseorang kepada perubahan besar dalam hidup mereka.

 

Sabtu, 29 Maret 2025

Willlibrodus Romanus Lasiman: Kebenaran itu terdapat dalam kitab suci, dan kitab yang benar adalah Al-Qur'an

Lasiman dulunya merupakan seorang penganut Katolik. Nama kecilnya adalah Lasiman, lahir dari orang tua yang menganut kepercayaan Kejawen. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan formal di sekolah Katolik yang berada di samping gereja di Sleman, Yogyakarta. Di sana, ia juga menerima pendidikan agama Katolik, yang akhirnya membawanya menjadi seorang penganut Katolik. Ia diberi nama baptis Willibrordus dan kemudian mendapatkan nama baptis kader penguatan, yaitu Romanus. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di sekolah guru milik yayasan Katolik yang didirikan pada tahun 1822.

Sebagai seorang siswa di sekolah tersebut, Lasiman dididik untuk menjadi guru misi. Kegiatannya pun selalu berkaitan dengan aktivitas misionaris, seperti melatih teater untuk pertunjukan Natal dan Paskah serta bergabung dalam tim paduan suara lagu-lagu rohani. Ia aktif dalam berbagai acara misi yang bertujuan menyebarkan ajaran Katolik.

Guru-guru di sekolah Katolik pada masa itu mendapatkan pembinaan khusus sebagai guru misionaris. Lasiman dan rekan-rekannya dilatih oleh Keuskupan Agung Semarang dan Gereja Pintaran di Yogyakarta. Mereka diberikan pelatihan tentang kurikulum pendidikan dan metode mengajar di sekolah-sekolah dengan pendekatan tertentu. Salah satu yang diajarkan adalah mengenai sejarah Islam yang mencantumkan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari Wali Songo. Pemahaman ini disandingkan dengan konsep manunggaling kawula gusti, yang kemudian dibandingkan dengan ajaran bahwa Yesus adalah perwujudan Tuhan dalam bentuk manusia.

Sebagai seorang misionaris, tugas utama yang diemban adalah menyebarkan ajaran Katolik, terutama di kalangan masyarakat Muslim melalui lembaga pendidikan. Oleh karena itu, meskipun Undang-Undang Sisdiknas telah diundangkan, penerapannya di sekolah-sekolah Katolik dan Kristen tetap mempertahankan sistem pendidikan mereka. Lasiman kemudian menuliskan pengalaman ini dalam bukunya yang berjudul Kristenisasi Berkedok Islam.

Pada tahun 1977, setelah mendapatkan pelatihan dari Keuskupan Semarang untuk menyebarkan ajaran Katolik di Jawa Barat, Lasiman ditempatkan di Garut. Di sana, ia bertemu dengan Profesor Dr. Anwar Musyaddad, seorang ulama yang juga menjabat sebagai Rektor IAIN Bandung saat itu. Pertemuan tersebut menjadi awal dari berbagai diskusi mengenai kebenaran agama. Profesor Anwar memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kristologi dan perbandingan agama, yang membuat Lasiman tertarik untuk berdialog lebih jauh.

Ketertarikannya terhadap pencarian kebenaran sebenarnya sudah tumbuh sejak ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Kemaritiman dan Sospol UGM. Baginya, dialog merupakan salah satu cara dalam upaya mengajak mahasiswa untuk menerima ajaran Katolik. Namun, semakin banyak ia berdialog, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, terutama mengenai perbedaan antara Katolik dan Protestan serta konsep dosa warisan. Saat ia mempelajari tafsir dalam Katolik dan membandingkannya dengan tafsir Alkitab dalam Kristen Protestan, ia menemukan banyak perbedaan yang membuatnya semakin ingin mencari jawaban yang memuaskan.

Setelah melalui proses diskusi panjang dengan Profesor Anwar Musyaddad, Lasiman akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia secara resmi mengikrarkan syahadat di Kantor Departemen Agama Yogyakarta pada 15 April 1980. Keputusannya didasarkan pada keyakinannya bahwa kebenaran sejati terdapat dalam Islam. Dari hasil pencariannya, ia menyimpulkan bahwa kehidupan manusia pasti berujung pada kematian, dan kematian harus dihadapi dengan membawa kebenaran. Kebenaran itu, menurutnya, terdapat dalam kitab suci, dan kitab yang benar adalah Al-Qur'an.

Setelah masuk Islam, Lasiman bertekad untuk mendalami ajaran Islam lebih dalam. Ia belajar di sebuah pesantren di Cirebon dan mulai melihat tantangan baru. Menurutnya, banyak orang yang mengaku Muslim tetapi tidak benar-benar memahami Islam. Ia ingin menjalankan Islam secara ilmiah, sebagaimana ia terbiasa dalam pendidikan Katolik. Namun, setelah belajar di pesantren, ia merasa itu belum cukup, sehingga ia melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana muda di IAIN Cirebon. Merasa masih perlu mendalami Islam lebih jauh, ia kemudian melanjutkan studi S1 di Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di bidang psikologi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam tesisnya tentang konversi agama, ia membahas bagaimana seorang Muslim yang telah berhaji bisa masuk Kristen, serta bagaimana seorang aktivis Kristen bisa bertobat dan kembali kepada Islam.

Setelah memahami Islam secara mendalam, Lasiman merasa memiliki tanggung jawab untuk berdakwah dan menyebarkan kebenaran Islam kepada orang lain. Namun, tantangan besar muncul setelah ia masuk Islam. Banyak teman-teman lamanya yang menolak keputusannya dan menunjukkan ketidaksukaan, baik secara lisan, fisik, bahkan hingga memberikan hukuman sosial. Keluarga pun tidak sepenuhnya menerima keputusannya.

Namun, Lasiman tidak goyah. Ia meyakini bahwa cobaan adalah bagian dari perjalanan iman, sebagaimana yang dialami Rasulullah Muhammad ﷺ. Baginya, jika seseorang menegakkan agama Allah tetapi tidak mengalami tantangan, justru hal itu yang perlu dipertanyakan. Ia berpegang pada keyakinan bahwa kesuksesan sejati hanya bisa diraih dengan keteguhan menghadapi rintangan dan penderitaan.

Setelah menjadi Muslim, ia merasa hatinya lebih tenang dan mantap. Ia meyakini bahwa Islam adalah kebenaran yang dapat diterima oleh hati, akal, dan pikiran. Namun, ia juga menyayangkan bahwa meskipun ajaran Islam itu benar, banyak umat Muslim yang belum memahami Islam secara mendalam.

Sebelum masuk Islam, Lasiman mengaku telah membantu memurtadkan ribuan orang Muslim melalui berbagai program bantuan sosial, seperti pemberian susu dan pakaian. Semua kegiatan itu dilakukan secara sistematis dan terpadu. Namun, setelah menjadi Muslim, ia justru merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan orang-orang yang telah murtad agar kembali kepada Islam.

Untuk itu, pada tahun 1991, ia bersama Mohammad Natsir mendirikan lembaga Al Mantik di Jakarta. Melalui lembaga ini, ia aktif berdakwah dan berupaya mengembalikan umat Islam yang telah berpindah keyakinan. Bersama rekan-rekannya, ia juga mendeklarasikan gerakan masuk Islam yang melibatkan masyarakat se-ASEAN.

Dalam perjalanannya, Lasiman menghadapi berbagai tantangan, tetapi ia tetap teguh dalam keyakinannya. Ia meyakini bahwa tantangan dan penderitaan adalah bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi oleh setiap Muslim yang berjuang menegakkan agama Islam. Baginya, tidak ada kebahagiaan tanpa perjuangan, dan perjuangan dalam Islam adalah jalan menuju kesuksesan sejati.

Raja ke-4 Mataram Islam: Hamengkurat I/Amangkurat I

Silsilah Hamengkurat I

Hamengkurat I merupakan putra dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, penguasa Kesultanan Mataram Islam yang terkenal dengan ekspansi wilayahnya serta kebijakannya dalam memperkuat kerajaan. Ibunya adalah Ratu Kulon, salah satu permaisuri Sultan Agung.

Berikut adalah silsilah singkat Hamengkurat I:

1.       Panembahan Senopati (Pendiri Mataram Islam) – Kakek Buyut

2.       Panembahan Hanyakrawati - Kakek

3.       Sultan Agung Hanyakrakusuma - Ayah

4.       Hamengkurat I

Hamengkurat I memiliki beberapa anak, di antaranya:

1.        Pangeran Adipati Anom (kemudian menjadi Amangkurat II)

2.        Pangeran Puger (kemudian menjadi Pakubuwono I)

3.        Beberapa putri yang diperistri oleh bangsawan dan penguasa lain

Hamengkurat I juga memiliki beberapa saudara, di antaranya:

1.        Pangeran Alit (adik kandung, sempat berencana memberontak)

2.        Pangeran Purbaya (saudara tiri, dikenal sebagai salah satu bangsawan Mataram)

3.        Beberapa saudara lain yang menjadi bagian dari keluarga bangsawan Mataram

Naiknya Hamengkurat I ke Tahta

Sebelumnya, telah ditetapkan bahwa Pangeran Alit, yang merupakan putra mahkota, akan menjadi penerus tahta Sultan Agung Hanyakrakusuma. Namun, ketika sang sultan jatuh sakit, Ratu Wetan (istri Sultan Agung) berhasil membujuknya untuk mengangkat Raden Mas Sayidin sebagai penggantinya. Keputusan ini tentu menimbulkan gejolak di lingkungan istana, terutama dari pihak pendukung setia Pangeran Alit yang merasa bahwa hak waris tahta telah diabaikan.

Untuk mencegah konflik lebih lanjut, Ratu Wetan mengadakan upacara penobatan Raden Mas Sayidin secara tertutup. Dengan demikian, pada tahun 1646, Raden Mas Sayidin resmi menjadi raja dengan gelar panjang Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Prabu Mangkurat Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. Nama tersebut kemudian disingkat menjadi Amangkurat I atau Hamengkurat I.

Kepemimpinan yang Penuh Kekejaman

Berbeda jauh dari ayahnya, Hamengkurat I dikenal sebagai pemimpin yang egois, kejam, dan licik. Ia lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibandingkan kesejahteraan rakyatnya. Dalam menjalankan kekuasaannya, ia tidak segan-segan membunuh siapa saja yang dianggap sebagai ancaman, baik dari kalangan bangsawan, pejabat istana, hingga rakyat biasa.

Salah satu tindakan paling kejam yang dilakukan oleh Hamengkurat I adalah pembantaian 6.000 ulama beserta keluarganya dalam waktu kurang dari 30 menit. Kejadian ini dipicu oleh rencana pemberontakan yang hampir dilakukan oleh Pangeran Alit, yang telah melihat sifat asli sang sultan. Namun, sebelum rencana tersebut terwujud, seseorang telah membocorkannya kepada pihak istana, sehingga Pangeran Alit dibunuh terlebih dahulu.

Takut akan adanya pemberontakan serupa dari pendukung setia Pangeran Alit, Hamengkurat I memerintahkan pasukannya untuk membantai para ulama yang ia tuduh sebagai dalang di balik rencana pemberontakan. Tindakan ini semakin memperburuk citranya sebagai penguasa yang bengis dan haus kekuasaan.

Pemberontakan Trunojoyo dan Kejatuhan Hamengkurat I

Memasuki tahun 1670-an, Kesultanan Mataram mulai mengalami kemunduran yang semakin nyata. Di tengah situasi yang tidak stabil, muncul sosok Trunojoyo, seorang bangsawan asal Madura yang melancarkan pemberontakan terhadap Mataram Islam. Pemberontakan ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan wilayah Madura dari kekuasaan Mataram, tetapi juga mendapat dukungan dari Pangeran Adipati Anom atau Raden Mas Rahmat, putra Hamengkurat I, yang ingin menggulingkan pemerintahan ayahnya.

Pasukan Trunojoyo mendapatkan bantuan dari berbagai kerajaan lain, termasuk dari Makassar dan Banten, yang turut mendukung upaya melawan Hamengkurat I. Dengan kekuatan yang semakin besar, pasukan Trunojoyo berhasil menduduki ibu kota Mataram pada tahun 1677. Sultan Hamengkurat I dan keluarganya pun terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari kehancuran.

Melihat kondisi kerajaan yang semakin kacau, Pangeran Adipati Anom berbalik melawan Trunojoyo. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan tahta Mataram. Trunojoyo berhasil menguasai istana dan bahkan memperistri salah satu putri Hamengkurat I, sebagai simbol kemenangan atas Mataram.

Perpindahan Kraton dari Kotagede ke Plered

Kraton Amangkurat I terletak di Plered, yang sekarang masuk dalam wilayah Bantul, Yogyakarta. Kraton ini dibangun oleh Amangkurat I sebagai pengganti ibu kota Mataram Islam yang sebelumnya berada di Karta (dekat Kotagede). Kraton Plered menjadi pusat pemerintahan Mataram hingga tahun 1677, sebelum akhirnya jatuh ke tangan pasukan Trunojoyo dalam pemberontakan besar yang menyebabkan Amangkurat I melarikan diri. Setelah keruntuhan Plered, pusat pemerintahan Mataram kemudian dipindahkan oleh penggantinya, Amangkurat II, ke Kartasura.

Akhir Tragis Hamengkurat I

Dalam pelariannya, Hamengkurat I mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia tidak hanya kehilangan tahtanya, tetapi juga banyak orang kepercayaannya. Ditambah lagi dengan usianya yang sudah tua, ia jatuh sakit dalam kondisi terlunta-lunta.

Akhirnya, pada tahun 1677, Hamengkurat I meninggal dunia di wilayah Tegal. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Petilasan Kembang Lampir, tempat peristirahatan terakhir yang menjadi saksi bisu atas kisah tragis seorang sultan yang pernah berkuasa dengan tangan besi, namun akhirnya jatuh dalam kehancuran akibat kekejamannya sendiri.

 

Raja ke-2 Mataram Islam: Panembahan Hanyakrawati

Panembahan Hanyakrawati, yang memiliki nama asli Raden Mas Jolang, adalah raja kedua Kesultanan Mataram Islam yang memerintah dari tahun 1601 hingga 1613. Ia merupakan putra dari Panembahan Senapati, pendiri dan raja pertama Mataram, dengan permaisuri Ratu Mas Waskitajawi, putri dari Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati

Silsilah Keluarga

Menurut sumber sejarah, raja yang menempati urutan kedua dalam daftar silsilah pemimpin Kerajaan Mataram Islam tersebut menikah sebanyak dua kali. Istri pertamanya bernama Ratu Tulungayu yang asalnya dari Ponorogo.

Pada awalnya, pasangan tersebut hidup dengan bahagia. Bahkan, sang raja menjanjikan kalau keturunan mereka kelak akan menduduki tahta kerajaan. Namun setelah sekian lama menanti, mereka belum juga mendapatkan keturunan.

Dalam penantian tersebut, sang raja memutuskan untuk menikah kembali dengan Dyah Banowati. Dari pernikahan ini, mereka mendapatkan dua orang anak. Mereka adalah Raden Mas Rangsang dan Ratu Pandansari.

Beberapa tahun setelah menjadi raja, Ratu Tulungayu pun hamil dan melahirkan seorang anak bernama Raden Mas Wuryah. Sayangnya, anak yang digadang-gadang menjadi penerus ini konon memiliki kondisi yang kurang sempurna.

Berikut Silsilahnya

·      Ayah: Panembahan Senapati (Raden Sutawijaya

·      Ibu: Ratu Mas Waskitajawi​ (putri Ki Ageng Panjawi penguasa Pati)

·      Istri:

o    Ratu Tulungayu, putri dari Ponorogo​

o    Dyah Banowati, putri Pangeran Benawa dari Pajang​

·      Anak:

o    Raden Mas Rangsang (Sultan Agung)​ – putra Dyah Banowati

o    Raden Mas Wuryah (Adipati Martapura)​ – putra Ratu Tulungayu

o    Ratu Pandansari​ – putri Dyah Baowati

Perjalanan Hidup dan Pemerintahan

Setelah wafatnya Panembahan Senapati pada tahun 1601, Raden Mas Jolang naik takhta dengan gelar Panembahan Hanyakrawati . Masa pemerintahannya diwarnai oleh berbagai pemberontakan, termasuk dari saudara-saudaranya sendiri. Salah satu pemberontakan signifikan terjadi pada tahun 1602, dipimpin oleh Pangeran Puger, kakaknya, yang merasa lebih berhak atas takhta Mataram .​

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Panembahan Hanyakrawati tetap berupaya memperkuat kerajaan. Ia melanjutkan pembangunan di Kotagede, meneruskan upaya ayahnya dalam mengembangkan keraton Mataram . Selain itu, ia menjalin kontak dengan Belanda setelah mereka mendirikan kantor dagang di Gresik, menunjukkan diplomasi aktif dalam pemerintahannya .​

Panembahan Hanyakrawati wafat pada tahun 1613 dan dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta, menjadikannya raja terakhir Mataram yang dimakamkan di sana . Setelah wafatnya, takhta Mataram diwariskan kepada putranya, Raden Mas Rangsang, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung, salah satu raja terbesar dalam sejarah Mataram Islam

Jumat, 28 Maret 2025

K.H. Anastasius Priharsoyo, S.A: Islam menawarkan pedoman hidup yang lebih baik

 

K.H. Anastasius Priharsoyo, S.Ag., yang awalnya seorang misionaris Katolik seperti kedua orang tuanya, merasa terbatas dalam menjangkau masyarakat miskin dan pecandu di Jawa Tengah karena kecurigaan yang mereka miliki terhadapnya. Ia mulai berpikir bahwa dengan menjadi seorang Muslim, ia bisa lebih diterima dan membantu lebih banyak orang. Setelah mempelajari Al-Qur'an dan meyakini bahwa Islam menawarkan pedoman hidup yang lebih baik dibandingkan dengan Alkitab, ia memutuskan untuk masuk Islam pada tahun 1976.

Delapan tahun setelah memeluk Islam, ia mendirikan Pondok Pesantren Al Islamy, sebuah pusat pendidikan dan rehabilitasi narkoba di Padaan Banjarharjo Kalibawang Kulon Progo DIY. Meskipun menjadi Muslim, ia tetap mempertahankan beberapa ajaran Katolik dan menolak interpretasi Islam yang eksklusif, seperti mengucilkan non-Muslim. Pesantrennya menjadi pusat pembelajaran dan penyembuhan multikeyakinan yang juga mengadopsi unsur mistisisme Jawa.

Dengan pendekatan yang moderat dan inklusif, ia memberikan pendidikan agama sesuai kepercayaan masing-masing murid—umat Kristen diajarkan oleh seorang pastor, sedangkan umat Islam diajarkan olehnya. Ketika memberikan khotbah mingguan, ia menyesuaikan pendekatan: menggunakan nyanyian Gregorian jika lebih banyak umat Kristen hadir dan bacaan Al-Qur'an jika mayoritas adalah Muslim.

Dalam misinya, Priharsoyo menunjukkan bahwa keyakinan yang berbeda bisa berdampingan secara harmonis, dan dedikasinya terhadap rehabilitasi pecandu narkoba mencerminkan komitmen spiritualnya setelah berpindah keyakinan ke Islam. Sumber: A Faith Healer's Passion | TIME.

Jumat, 21 Maret 2025

Raja Mataram Islam ke-3: Sultan Agung Hanyakrakusuma

Detail Gambar Sultan Agung Hanyokrokusumo Koleksi Nomer 51

Raja Mataram Islam ketiga adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah 1613–1645). Ia merupakan raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram dan dikenal sebagai pemimpin yang gagah berani serta berambisi menyatukan Nusantara.

Nama Lengkap dan Gelar

Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika atau Raden Mas Rangsang. Setelah naik takhta, ia bergelar Sultan Agung Anyokrokusumo atau Prabu Pandita Hanyakrakusuma.

 

Istri-istrinya

Sumber sejarah menyebutkan beberapa istri Sultan Agung, di antaranya:

·     Ratu Kulon – Putri dari Kiai Adipati Mandaraka (Patih Mataram).

·     Ratu Wetan – Putri dari Panembahan Ratu Cirebon.

·     Putri dari Kesultanan Banten – Istri politik untuk mempererat hubungan dengan Banten.

 

Anak-anaknya

Beberapa anak Sultan Agung yang tercatat dalam sejarah adalah:

·     Amangkurat I (pengganti Sultan Agung sebagai Raja Mataram ke-3).

·     Pangeran Alit (adik Amangkurat I, tewas dalam konflik dengan kakaknya).

·     Pangeran Purbaya (terkenal sebagai pangeran yang menolak tunduk kepada VOC).

 

Kisah Heroiknya

·     Penyerangan ke Batavia (1628–1629)

Sultan Agung sangat menentang kehadiran VOC (Belanda) di Nusantara. Pada tahun 1628 dan 1629, ia dua kali menyerang Batavia (sekarang Jakarta) yang saat itu menjadi pusat kekuasaan Belanda di Hindia Timur.

ü Serangan Pertama (1628)

Dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso, tapi gagal karena kurangnya pasokan logistik.

ü Serangan Kedua (1629)

v  Dipimpin oleh Sura Agul-agul dan Dipati Ukur.

v Sultan Agung menggunakan taktik "bumi hangus", menghancurkan lumbung padi agar tidak bisa digunakan oleh VOC.

v  Pasukan Mataram sempat mendekati benteng Batavia, tetapi kekurangan suplai dan terpaksa mundur.

Meskipun gagal merebut Batavia, serangan ini membuat Belanda kewalahan dan memperkuat pertahanan mereka.

 

·     Reformasi di Mataram

ü Mengukuhkan Islam sebagai agama kerajaan, tetapi tetap mempertahankan tradisi Jawa.

ü Menyusun Kalender Jawa, menggabungkan kalender Saka Hindu dengan kalender Hijriyah Islam.

ü Memperluas Wilayah Mataram, hingga mencakup sebagian besar Pulau Jawa, kecuali Banten dan Batavia.

 

·     Wafat

Sultan Agung wafat pada 1645 dan dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta.


·     Peninggalannya yang masih dikenal hingga kini adalah:

ü Kalender Jawa (digunakan sampai sekarang).

ü Kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri.

ü Pengaruh besar dalam budaya Jawa dan Islam di Indonesia.

Sultan Agung dikenang sebagai pahlawan nasional yang gigih melawan kolonialisme dan membangun kejayaan Mataram Islam.