Silsilah
Hamengkurat I
Hamengkurat I
merupakan putra dari Sultan Agung Hanyakrakusuma, penguasa Kesultanan Mataram
Islam yang terkenal dengan ekspansi wilayahnya serta kebijakannya dalam
memperkuat kerajaan. Ibunya adalah Ratu Kulon, salah satu permaisuri Sultan
Agung.
Berikut
adalah silsilah singkat Hamengkurat I:
1.
Panembahan Senopati (Pendiri Mataram Islam) –
Kakek Buyut
2.
Panembahan Hanyakrawati - Kakek
3.
Sultan Agung Hanyakrakusuma - Ayah
4.
Hamengkurat I
Hamengkurat
I memiliki beberapa anak, di antaranya:
1.
Pangeran Adipati Anom (kemudian menjadi
Amangkurat II)
2.
Pangeran Puger (kemudian menjadi Pakubuwono I)
3.
Beberapa putri yang diperistri oleh bangsawan
dan penguasa lain
Hamengkurat
I juga memiliki beberapa saudara, di antaranya:
1.
Pangeran Alit (adik kandung, sempat berencana
memberontak)
2.
Pangeran Purbaya (saudara tiri, dikenal
sebagai salah satu bangsawan Mataram)
3.
Beberapa saudara lain yang menjadi bagian dari
keluarga bangsawan Mataram
Naiknya
Hamengkurat I ke Tahta
Sebelumnya, telah
ditetapkan bahwa Pangeran Alit, yang merupakan putra mahkota, akan menjadi
penerus tahta Sultan Agung Hanyakrakusuma. Namun, ketika sang sultan jatuh
sakit, Ratu Wetan (istri Sultan Agung) berhasil membujuknya untuk mengangkat
Raden Mas Sayidin sebagai penggantinya. Keputusan ini tentu menimbulkan gejolak
di lingkungan istana, terutama dari pihak pendukung setia Pangeran Alit yang
merasa bahwa hak waris tahta telah diabaikan.
Untuk mencegah
konflik lebih lanjut, Ratu Wetan mengadakan upacara penobatan Raden Mas Sayidin
secara tertutup. Dengan demikian, pada tahun 1646, Raden Mas Sayidin resmi
menjadi raja dengan gelar panjang Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng
Susuhunan Prabu Mangkurat Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama
Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping I. Nama tersebut kemudian disingkat
menjadi Amangkurat I atau Hamengkurat I.
Kepemimpinan
yang Penuh Kekejaman
Berbeda jauh dari
ayahnya, Hamengkurat I dikenal sebagai pemimpin yang egois, kejam, dan licik.
Ia lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibandingkan kesejahteraan
rakyatnya. Dalam menjalankan kekuasaannya, ia tidak segan-segan membunuh siapa
saja yang dianggap sebagai ancaman, baik dari kalangan bangsawan, pejabat
istana, hingga rakyat biasa.
Salah satu
tindakan paling kejam yang dilakukan oleh Hamengkurat I adalah pembantaian 6.000
ulama beserta keluarganya dalam waktu kurang dari 30 menit. Kejadian ini dipicu
oleh rencana pemberontakan yang hampir dilakukan oleh Pangeran Alit, yang telah
melihat sifat asli sang sultan. Namun, sebelum rencana tersebut terwujud,
seseorang telah membocorkannya kepada pihak istana, sehingga Pangeran Alit
dibunuh terlebih dahulu.
Takut akan adanya
pemberontakan serupa dari pendukung setia Pangeran Alit, Hamengkurat I
memerintahkan pasukannya untuk membantai para ulama yang ia tuduh sebagai
dalang di balik rencana pemberontakan. Tindakan ini semakin memperburuk
citranya sebagai penguasa yang bengis dan haus kekuasaan.
Pemberontakan
Trunojoyo dan Kejatuhan Hamengkurat I
Memasuki tahun
1670-an, Kesultanan Mataram mulai mengalami kemunduran yang semakin nyata. Di
tengah situasi yang tidak stabil, muncul sosok Trunojoyo, seorang bangsawan
asal Madura yang melancarkan pemberontakan terhadap Mataram Islam.
Pemberontakan ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan wilayah Madura dari
kekuasaan Mataram, tetapi juga mendapat dukungan dari Pangeran Adipati Anom
atau Raden Mas Rahmat, putra Hamengkurat I, yang ingin menggulingkan
pemerintahan ayahnya.
Pasukan Trunojoyo
mendapatkan bantuan dari berbagai kerajaan lain, termasuk dari Makassar dan
Banten, yang turut mendukung upaya melawan Hamengkurat I. Dengan kekuatan yang
semakin besar, pasukan Trunojoyo berhasil menduduki ibu kota Mataram pada tahun
1677. Sultan Hamengkurat I dan keluarganya pun terpaksa melarikan diri untuk
menyelamatkan diri dari kehancuran.
Melihat kondisi
kerajaan yang semakin kacau, Pangeran Adipati Anom berbalik melawan Trunojoyo.
Namun, hal tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan tahta Mataram. Trunojoyo
berhasil menguasai istana dan bahkan memperistri salah satu putri Hamengkurat
I, sebagai simbol kemenangan atas Mataram.
Perpindahan
Kraton dari Kotagede ke Plered
Kraton Amangkurat I terletak di Plered, yang
sekarang masuk dalam wilayah Bantul, Yogyakarta. Kraton ini dibangun oleh
Amangkurat I sebagai pengganti ibu kota Mataram Islam yang sebelumnya berada di
Karta (dekat Kotagede). Kraton Plered menjadi pusat pemerintahan Mataram hingga
tahun 1677, sebelum akhirnya jatuh ke tangan pasukan Trunojoyo dalam
pemberontakan besar yang menyebabkan Amangkurat I melarikan diri. Setelah
keruntuhan Plered, pusat pemerintahan Mataram kemudian dipindahkan oleh
penggantinya, Amangkurat II, ke Kartasura.
Akhir
Tragis Hamengkurat I
Dalam pelariannya,
Hamengkurat I mengalami penderitaan yang luar biasa. Ia tidak hanya kehilangan
tahtanya, tetapi juga banyak orang kepercayaannya. Ditambah lagi dengan usianya
yang sudah tua, ia jatuh sakit dalam kondisi terlunta-lunta.
Akhirnya, pada
tahun 1677, Hamengkurat I meninggal dunia di wilayah Tegal. Jenazahnya kemudian
dimakamkan di Petilasan Kembang Lampir, tempat peristirahatan terakhir yang
menjadi saksi bisu atas kisah tragis seorang sultan yang pernah berkuasa dengan
tangan besi, namun akhirnya jatuh dalam kehancuran akibat kekejamannya sendiri.