Tampilkan postingan dengan label Muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muallaf. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2025

Delfano Charies Rieyan: Merasakan Kedamaian dan Makna Hidup yang Sesungguhnya

 


Delfano Charies Rieyan, dikenal sebagai Delfano Charies atau Fano, adalah seorang YouTuber dan pengusaha asal Semarang, Indonesia, yang dikenal luas sebagai pendiri kanal edukasi anak-anak, Kinderflix. Ia lahir pada 6 Agustus 1994 dan memeluk agama Islam sejak tahun 2019.​suara.com+4Mengerti Id - Lebih dari Informasi+4Home - KUYOU.ID - News Millenial | Gen Z+4

Riwayat Hidup dan Karier

Sebelum dikenal sebagai pendiri Kinderflix, Delfano memulai kariernya di dunia digital melalui kanal YouTube KIFLYF TV, yang menampilkan berbagai konten hiburan. Pada tahun 2015, ia mendirikan bisnis travel umroh yang berkembang pesat dengan 24 cabang di kota-kota seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Semarang. Meskipun belum memeluk Islam saat itu, ia mendalami berbagai aspek ibadah umroh untuk menjalankan bisnisnya dengan baik .​Pinterest+1Home - KUYOU.ID - News Millenial | Gen Z+1Gen Muslim

Setelah memeluk Islam, Delfano mendirikan Kinderflix, sebuah kanal YouTube yang fokus pada konten edukasi untuk anak-anak usia 1 hingga 5 tahun. Kanal ini menyajikan video animasi yang mengajarkan nilai-nilai Islam dan pengetahuan dasar dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak .​Pinterest+5Ayo Semarang+5Chanelmuslim.com+5

Kisah Mualaf

Perjalanan spiritual Delfano menuju Islam dimulai dari ketertarikannya pada ajaran Islam yang ia pelajari selama menjalankan bisnis travel umroh. Ia mengaku bahwa sebelumnya memiliki pandangan negatif terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Namun, setelah mempelajari lebih dalam, ia merasakan kedamaian dan makna hidup yang sesungguhnya setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menunaikan sholat di masjid .​suara.com+3Gen Muslim+3Mengerti Id - Lebih dari Informasi+3Mengerti Id - Lebih dari InformasiTelisik

Keputusannya untuk memeluk Islam awalnya menimbulkan kesedihan pada ibunya, Nawa. Namun, seiring waktu, keluarganya menerima keputusannya dengan lapang dada .​suara.com+1Chanelmuslim.com+1

Kehidupan Pribadi

Delfano menikah dengan Namira Mamora, seorang selebgram asal Bandung. Pasangan ini memutuskan untuk menikah tanpa melalui proses pacaran, dan kini dikaruniai seorang anak bernama Muhammad Kastara Ali .​Islampos+1Mengerti Id - Lebih dari Informasi+1Mengerti Id - Lebih dari Informasi

Delfano aktif berbagi kisah hidup dan perjalanannya sebagai mualaf melalui berbagai platform, termasuk podcast dan media sosial, yang menginspirasi banyak orang untuk lebih memahami dan mendalami ajaran Islam.​Mengerti Id - Lebih dari Informasi

Sabtu, 05 April 2025

Ngatini, Sukarno, Suminem, Suyati, Tukiman, dan Wakidi (Mendapat Hidayah: Gunung Kelir Menjadi Saksi Pertambahan Saudara Seiman

Gunung Kelir, sebuah wilayah yang tenang di Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi saksi atas sebuah peristiwa yang menggetarkan hati. Dalam suasana penuh kehangatan dan keimanan, enam orang yang sebelumnya memeluk agama Budha dengan mantap mengikrarkan dua kalimat syahadat, menandai awal perjalanan mereka sebagai seorang Muslim.

Peristiwa penuh makna ini terjadi dalam rangkaian Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Yayasan Baitul Maqdis (YBM) Jakarta, Juni 2016. Dengan bimbingan penuh khidmat dari Ustadz Abdur Rasyid serta perwakilan pengurus YBM Kulon Progo, mereka menjalani proses sakral itu dengan tenang dan penuh haru.

Mereka datang kepada Islam dengan hati yang tulus, tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Salah seorang dari mereka bahkan menyatakan bahwa keinginan memeluk Islam telah lama terpendam dalam hatinya, namun baru kali inilah ia benar-benar mantap mengambil langkah besar dalam hidupnya—memeluk agama tauhid, Islam.

Kini, setelah mengikrarkan syahadat, keenam muallaf tersebut akan menjalani proses pembinaan dan pendampingan dari Yayasan Baitul Maqdis perwakilan Kulon Progo. Mereka akan bergabung bersama para muallaf lainnya yang lebih dulu menapaki jalan hidayah, untuk belajar dan memperdalam pemahaman agama Islam secara bertahap dan berkesinambungan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan keistiqamahan kepada para muallaf ini, menguatkan hati mereka, dan menjadikan mereka sebagai bagian dari barisan kaum muslimin yang tangguh di Gunung Kelir, Kulon Progo. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Sumber: Allahu Akbar Enam Mantan Budha Bersyahadat di Kulon Progo – Yayasan Baitul Maqdis

Ferenc Raymond Sahetapy

 


Ferenc Raymond Sahetapy (1 Januari 1957 – 1 April 2025) adalah seorang aktor dan penyanyi Indonesia. Dikenal luas sebagai salah satu pemeran paling disegani di generasinya, Ray kerap membawakan peran-peran pria kompleks dengan karakter yang dalam dan penuh nuansa. Kariernya di dunia seni peran membentang lebih dari empat dekade, dan penampilannya dalam film-film drama seperti Ponirah Terpidana (1983), Tatkala Mimpi Berakhir (1987), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990) dianggap sebagai yang paling mengesankan dalam kariernya. Ray menerima tujuh nominasi Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia, enam di antaranya dalam kategori Aktor Terbaik—sebuah rekor untuk nominasi terbanyak dalam kategori tersebut tanpa kemenangan.

Kehidupan Awal

Ray menghabiskan masa kecilnya di Panti Asuhan Yatim Warga Indonesia, Surabaya. Sejak remaja, ia sudah menaruh minat besar pada dunia akting. Untuk mewujudkan cita-citanya, ia melanjutkan studi ke Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977, satu angkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok.

Karier

Ray memulai debut filmnya lewat Gadis (1980) yang disutradarai oleh Nya’ Abbas Akup. Di film inilah ia bertemu dengan penyanyi dan aktris Dewi Yull, yang kemudian menjadi istrinya.

Pada tahun 1985, Ray mencoba peruntungan di dunia tarik suara dan merilis album solo berjudul Say.... Dua singel utamanya, "Satu Kenyataan Lagi" dan "Say…", dinyanyikannya berduet dengan Dewi Yull dan cukup mendapat sambutan.

Karier filmnya terus berkembang. Ia dinominasikan sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1989 lewat Noesa Penida (1988). Selain itu, ia tercatat menerima nominasi FFI atas perannya dalam Ponirah Terpidana (1984), Secangkir Kopi Pahit (1985), Kerikil-Kerikil Tajam (1985), Opera Jakarta (1986), Tatkala Mimpi Berakhir (1988), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990).

Di masa vakumnya industri perfilman nasional, Ray tetap aktif di dunia seni peran. Ia mendirikan sanggar teater di pinggiran kota dan membentuk komunitas seni. Lewat sanggar ini pula, Ray pernah mengemukakan ide kontroversial tentang perlunya mengganti nama "Republik Indonesia" menjadi "Republik Nusantara".

Ray kembali ke layar lebar pada 2006 lewat film Dunia Mereka. Di tahun yang sama, ia terpilih sebagai salah satu ketua dalam Kongres Persatuan Artis Film Indonesia.

Kehidupan Pribadi

Ray menikah dengan Dewi Yull pada 16 Juni 1981. Pernikahan itu sempat menjadi sorotan karena perbedaan agama dan tidak mendapat restu dari orang tua Dewi. Tak lama setelah pernikahan, Ray memutuskan menjadi mualaf pada tahun yang sama. Pasangan ini dikaruniai empat anak: Giscka Putri Agustina Sahetapy (1982–2010), Rama Putra Sahetapy (1991), Surya Sahetapy (1993), dan Muhammad Raya Sahetapy (2001).

Namun, pernikahan mereka berakhir pada 24 Agustus 2004. Dewi Yull menggugat cerai Ray setelah menolak keinginan Ray untuk berpoligami.

Pada Oktober 2004, Ray menikah lagi dengan Sri Respatini Kusumastuti, seorang pengusaha kafe dan katering yang juga pernah mengajar di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta. Dari hubungan sebelumnya, Sri memiliki dua anak.

Ray juga dikenal sebagai pemimpin organisasi Perhimpunan Seniman Nusantara, yang aktif memajukan dunia seni budaya Indonesia.

Kematian

Ray Sahetapy meninggal dunia pada 1 April 2025 di usia 68 tahun akibat penyakit stroke yang telah lama dideritanya.

 

Senin, 31 Maret 2025

Ida Bagus Erit Budi Finarno: Konsep dalam Al-Qur'an Miliki Keselarasan dengan Nilai-nilai Ketuhanan

 Ida Bagus Erit Budi Finarno lahir dalam keluarga Brahmana di Tabanan, Bali, yang dikenal sebagai penjaga ajaran dan ritual Hindu. Sebagai bagian dari keluarga yang memiliki garis keturunan pendeta, sejak kecil ia dididik dalam nilai-nilai Hindu dan mendalami ajaran Weda, kitab suci agama Hindu.

Pendidikan awalnya ditempuh di lingkungan yang kental dengan tradisi Hindu. Ia menjalani pendidikan agama secara intensif, termasuk belajar tentang filosofi, ritual, serta berbagai aspek spiritual dalam Hindu. Pemahamannya yang mendalam membawanya menjadi seorang pemuka agama yang dihormati di komunitasnya.

Namun, di tengah pencariannya akan makna hidup dan kebenaran hakiki, ia mulai menggali ajaran agama lain, termasuk Islam. Dalam perjalanannya, ia menemukan bahwa banyak konsep dalam Al-Qur'an memiliki keselarasan dengan nilai-nilai ketuhanan yang ia yakini. Rasa ingin tahunya semakin besar, dan ia mulai mempelajari Islam lebih mendalam.

Setelah melalui proses perenungan panjang, pada tahun 1995, Ida Bagus Erit Budi Finarno memutuskan untuk memeluk Islam. Keputusan ini bukan hal yang mudah karena ia berasal dari keluarga Brahmana yang sangat kuat memegang tradisi Hindu. Namun, keyakinannya terhadap Islam semakin menguat setelah memahami ajaran tauhid yang menegaskan keesaan Allah.

Setelah masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Abdul Aziz dan mulai aktif dalam dunia dakwah. Dengan pengalaman dan wawasan mendalamnya tentang agama Hindu, ia sering berdialog dengan berbagai kalangan dan berbagi kisah hijrahnya. Dakwahnya berfokus pada membangun pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta mengajak umat untuk memahami Islam dengan hati yang terbuka.

Hingga kini, Abdul Aziz terus mengabdikan dirinya dalam dakwah dan menjadi inspirasi bagi banyak orang yang tengah mencari kebenaran. Kisah perjalanannya dari seorang pendeta Hindu menuju Islam menjadi salah satu bukti bahwa hidayah bisa datang melalui berbagai jalan, dan pencarian ilmu dapat membawa seseorang pada cahaya kebenaran.

Ruben Onsu: Menemukan ketenangan dan kedamaian dalam Islam

 


Ruben Samuel Onsu, lahir di Jakarta pada 15 Agustus 1983, adalah seorang aktor, pembawa acara, komedian, dan pengusaha ternama di Indonesia. Ia mengawali karier di dunia hiburan sebagai anggota grup lawak Lenong Bocah, kemudian merambah menjadi presenter berbagai acara televisi populer seperti "Supersoulmate Show", "Cari-Cari Pacar", "Belum Cukup Gede", dan "Brownis (Obrowlan Manis)". Selain itu, Ruben juga terjun ke dunia akting dengan membintangi film seperti "Tina Toon dan Lenong Bocah" (2004) dan "Anda Puas, Saya Loyo" (2008). Di bidang bisnis, ia dikenal sebagai pendiri jaringan restoran Geprek Bensu yang memiliki cabang di seluruh Indonesia. ​Wowkeren+4Inilah+4Tuan Guru+4Dailysia+1IDN Times+1IDN Times+1BiografiKu+1Dailysia+2Wikipedia Indonesia+2Home - KUYOU.ID - News Millenial | Gen Z+2

Dalam kehidupan pribadi, Ruben menikah dengan Sarwendah Tan, mantan anggota grup vokal Cherrybelle, pada 22 Oktober 2013. Pasangan ini dikaruniai dua anak kandung, Thalia Putri Onsu dan Thania Putri Onsu, serta mengadopsi Betrand Peto Putra Onsu sebagai anak angkat. ​Riwayatmu+8Wikipedia Indonesia+8BiografiKu+8Inilah+2Riwayatmu+2Home - KUYOU.ID - News Millenial | Gen Z+2

Baru-baru ini, Ruben Onsu mengumumkan bahwa ia telah memeluk agama Islam. Keputusan ini diambil setelah melalui proses pencarian spiritual yang mendalam, di mana ia menemukan ketenangan dan kedamaian dalam Islam. Ruben menyatakan bahwa keputusannya untuk menjadi mualaf tidak terkait dengan permasalahan rumah tangganya sebelumnya. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada beberapa sahabat, termasuk Habib Usman dan Lesti Kejora, yang telah mendukung perjalanannya menuju Islam. ​Antara Newshttps://celebrity.okezone.com/+3suara.com+3suara.com+3Haibunda

Perjalanan spiritual Ruben mencapai puncaknya saat ia melaksanakan salat Idul Fitri pertamanya sebagai seorang Muslim, ditemani oleh sahabatnya, Ivan Gunawan. Momen tersebut diabadikan dalam foto yang menunjukkan keduanya mengenakan baju koko dan peci, berpose di dalam masjid bersama jamaah lainnya. ​Antara News

Keputusan Ruben untuk memeluk Islam menambah daftar selebriti Indonesia yang memilih jalan serupa, menunjukkan bahwa pencarian spiritual dapat membawa seseorang kepada perubahan besar dalam hidup mereka.

 

Sabtu, 29 Maret 2025

Willlibrodus Romanus Lasiman: Kebenaran itu terdapat dalam kitab suci, dan kitab yang benar adalah Al-Qur'an

Lasiman dulunya merupakan seorang penganut Katolik. Nama kecilnya adalah Lasiman, lahir dari orang tua yang menganut kepercayaan Kejawen. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan formal di sekolah Katolik yang berada di samping gereja di Sleman, Yogyakarta. Di sana, ia juga menerima pendidikan agama Katolik, yang akhirnya membawanya menjadi seorang penganut Katolik. Ia diberi nama baptis Willibrordus dan kemudian mendapatkan nama baptis kader penguatan, yaitu Romanus. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan di sekolah guru milik yayasan Katolik yang didirikan pada tahun 1822.

Sebagai seorang siswa di sekolah tersebut, Lasiman dididik untuk menjadi guru misi. Kegiatannya pun selalu berkaitan dengan aktivitas misionaris, seperti melatih teater untuk pertunjukan Natal dan Paskah serta bergabung dalam tim paduan suara lagu-lagu rohani. Ia aktif dalam berbagai acara misi yang bertujuan menyebarkan ajaran Katolik.

Guru-guru di sekolah Katolik pada masa itu mendapatkan pembinaan khusus sebagai guru misionaris. Lasiman dan rekan-rekannya dilatih oleh Keuskupan Agung Semarang dan Gereja Pintaran di Yogyakarta. Mereka diberikan pelatihan tentang kurikulum pendidikan dan metode mengajar di sekolah-sekolah dengan pendekatan tertentu. Salah satu yang diajarkan adalah mengenai sejarah Islam yang mencantumkan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari Wali Songo. Pemahaman ini disandingkan dengan konsep manunggaling kawula gusti, yang kemudian dibandingkan dengan ajaran bahwa Yesus adalah perwujudan Tuhan dalam bentuk manusia.

Sebagai seorang misionaris, tugas utama yang diemban adalah menyebarkan ajaran Katolik, terutama di kalangan masyarakat Muslim melalui lembaga pendidikan. Oleh karena itu, meskipun Undang-Undang Sisdiknas telah diundangkan, penerapannya di sekolah-sekolah Katolik dan Kristen tetap mempertahankan sistem pendidikan mereka. Lasiman kemudian menuliskan pengalaman ini dalam bukunya yang berjudul Kristenisasi Berkedok Islam.

Pada tahun 1977, setelah mendapatkan pelatihan dari Keuskupan Semarang untuk menyebarkan ajaran Katolik di Jawa Barat, Lasiman ditempatkan di Garut. Di sana, ia bertemu dengan Profesor Dr. Anwar Musyaddad, seorang ulama yang juga menjabat sebagai Rektor IAIN Bandung saat itu. Pertemuan tersebut menjadi awal dari berbagai diskusi mengenai kebenaran agama. Profesor Anwar memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kristologi dan perbandingan agama, yang membuat Lasiman tertarik untuk berdialog lebih jauh.

Ketertarikannya terhadap pencarian kebenaran sebenarnya sudah tumbuh sejak ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Kemaritiman dan Sospol UGM. Baginya, dialog merupakan salah satu cara dalam upaya mengajak mahasiswa untuk menerima ajaran Katolik. Namun, semakin banyak ia berdialog, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, terutama mengenai perbedaan antara Katolik dan Protestan serta konsep dosa warisan. Saat ia mempelajari tafsir dalam Katolik dan membandingkannya dengan tafsir Alkitab dalam Kristen Protestan, ia menemukan banyak perbedaan yang membuatnya semakin ingin mencari jawaban yang memuaskan.

Setelah melalui proses diskusi panjang dengan Profesor Anwar Musyaddad, Lasiman akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia secara resmi mengikrarkan syahadat di Kantor Departemen Agama Yogyakarta pada 15 April 1980. Keputusannya didasarkan pada keyakinannya bahwa kebenaran sejati terdapat dalam Islam. Dari hasil pencariannya, ia menyimpulkan bahwa kehidupan manusia pasti berujung pada kematian, dan kematian harus dihadapi dengan membawa kebenaran. Kebenaran itu, menurutnya, terdapat dalam kitab suci, dan kitab yang benar adalah Al-Qur'an.

Setelah masuk Islam, Lasiman bertekad untuk mendalami ajaran Islam lebih dalam. Ia belajar di sebuah pesantren di Cirebon dan mulai melihat tantangan baru. Menurutnya, banyak orang yang mengaku Muslim tetapi tidak benar-benar memahami Islam. Ia ingin menjalankan Islam secara ilmiah, sebagaimana ia terbiasa dalam pendidikan Katolik. Namun, setelah belajar di pesantren, ia merasa itu belum cukup, sehingga ia melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana muda di IAIN Cirebon. Merasa masih perlu mendalami Islam lebih jauh, ia kemudian melanjutkan studi S1 di Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan di bidang psikologi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam tesisnya tentang konversi agama, ia membahas bagaimana seorang Muslim yang telah berhaji bisa masuk Kristen, serta bagaimana seorang aktivis Kristen bisa bertobat dan kembali kepada Islam.

Setelah memahami Islam secara mendalam, Lasiman merasa memiliki tanggung jawab untuk berdakwah dan menyebarkan kebenaran Islam kepada orang lain. Namun, tantangan besar muncul setelah ia masuk Islam. Banyak teman-teman lamanya yang menolak keputusannya dan menunjukkan ketidaksukaan, baik secara lisan, fisik, bahkan hingga memberikan hukuman sosial. Keluarga pun tidak sepenuhnya menerima keputusannya.

Namun, Lasiman tidak goyah. Ia meyakini bahwa cobaan adalah bagian dari perjalanan iman, sebagaimana yang dialami Rasulullah Muhammad ï·º. Baginya, jika seseorang menegakkan agama Allah tetapi tidak mengalami tantangan, justru hal itu yang perlu dipertanyakan. Ia berpegang pada keyakinan bahwa kesuksesan sejati hanya bisa diraih dengan keteguhan menghadapi rintangan dan penderitaan.

Setelah menjadi Muslim, ia merasa hatinya lebih tenang dan mantap. Ia meyakini bahwa Islam adalah kebenaran yang dapat diterima oleh hati, akal, dan pikiran. Namun, ia juga menyayangkan bahwa meskipun ajaran Islam itu benar, banyak umat Muslim yang belum memahami Islam secara mendalam.

Sebelum masuk Islam, Lasiman mengaku telah membantu memurtadkan ribuan orang Muslim melalui berbagai program bantuan sosial, seperti pemberian susu dan pakaian. Semua kegiatan itu dilakukan secara sistematis dan terpadu. Namun, setelah menjadi Muslim, ia justru merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan orang-orang yang telah murtad agar kembali kepada Islam.

Untuk itu, pada tahun 1991, ia bersama Mohammad Natsir mendirikan lembaga Al Mantik di Jakarta. Melalui lembaga ini, ia aktif berdakwah dan berupaya mengembalikan umat Islam yang telah berpindah keyakinan. Bersama rekan-rekannya, ia juga mendeklarasikan gerakan masuk Islam yang melibatkan masyarakat se-ASEAN.

Dalam perjalanannya, Lasiman menghadapi berbagai tantangan, tetapi ia tetap teguh dalam keyakinannya. Ia meyakini bahwa tantangan dan penderitaan adalah bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi oleh setiap Muslim yang berjuang menegakkan agama Islam. Baginya, tidak ada kebahagiaan tanpa perjuangan, dan perjuangan dalam Islam adalah jalan menuju kesuksesan sejati.

Jumat, 28 Maret 2025

K.H. Anastasius Priharsoyo, S.A: Islam menawarkan pedoman hidup yang lebih baik

 

K.H. Anastasius Priharsoyo, S.Ag., yang awalnya seorang misionaris Katolik seperti kedua orang tuanya, merasa terbatas dalam menjangkau masyarakat miskin dan pecandu di Jawa Tengah karena kecurigaan yang mereka miliki terhadapnya. Ia mulai berpikir bahwa dengan menjadi seorang Muslim, ia bisa lebih diterima dan membantu lebih banyak orang. Setelah mempelajari Al-Qur'an dan meyakini bahwa Islam menawarkan pedoman hidup yang lebih baik dibandingkan dengan Alkitab, ia memutuskan untuk masuk Islam pada tahun 1976.

Delapan tahun setelah memeluk Islam, ia mendirikan Pondok Pesantren Al Islamy, sebuah pusat pendidikan dan rehabilitasi narkoba di Padaan Banjarharjo Kalibawang Kulon Progo DIY. Meskipun menjadi Muslim, ia tetap mempertahankan beberapa ajaran Katolik dan menolak interpretasi Islam yang eksklusif, seperti mengucilkan non-Muslim. Pesantrennya menjadi pusat pembelajaran dan penyembuhan multikeyakinan yang juga mengadopsi unsur mistisisme Jawa.

Dengan pendekatan yang moderat dan inklusif, ia memberikan pendidikan agama sesuai kepercayaan masing-masing murid—umat Kristen diajarkan oleh seorang pastor, sedangkan umat Islam diajarkan olehnya. Ketika memberikan khotbah mingguan, ia menyesuaikan pendekatan: menggunakan nyanyian Gregorian jika lebih banyak umat Kristen hadir dan bacaan Al-Qur'an jika mayoritas adalah Muslim.

Dalam misinya, Priharsoyo menunjukkan bahwa keyakinan yang berbeda bisa berdampingan secara harmonis, dan dedikasinya terhadap rehabilitasi pecandu narkoba mencerminkan komitmen spiritualnya setelah berpindah keyakinan ke Islam. Sumber: A Faith Healer's Passion | TIME.

Kamis, 20 Maret 2025

Dewi Sandra: Islam Mampu Menjawab Semua Pertanyaan Hidup

 


Dewi Sandra Killick, lahir pada 3 April 1980 di Brasilia, Brasil, adalah seorang penyanyi, aktris, dan model Indonesia yang dikenal luas dalam industri hiburan tanah air. Ia merupakan putri dari pasangan John George Killick, seorang pria asal Inggris, dan Hajjah Prihartini, seorang wanita berdarah Betawi. Dewi memulai kariernya sebagai model pada usia 17 tahun sebelum merambah ke dunia tarik suara dan akting.​

Dalam kehidupan pribadinya, Dewi Sandra telah mengalami tiga kali pernikahan. Pernikahan pertamanya dengan aktor Surya Saputra pada tahun 2000 berakhir dengan perceraian pada tahun 2005. Ia kemudian menikah dengan penyanyi Glenn Fredly pada tahun 2006, namun pernikahan ini juga berakhir pada tahun 2009. Setelah pernikahan keduanya berakhir, Dewi memutuskan untuk kembali memeluk Islam. Keputusan ini didasarkan pada keyakinannya bahwa Islam mampu menjawab semua pertanyaan hidupnya. Sejak saat itu, Dewi menjalani hijrah dan memutuskan untuk mengenakan hijab hingga sekarang. Pada tahun 2011, Dewi menikah dengan Agus Rahman ​fimela.com, yang menandai perubahan signifikan dalam citranya di dunia hiburan.​Musisi Fandom+1Infokuliah+1Infokuliah+1Musisi Fandom+1

Karier musik Dewi mencakup beberapa album, termasuk "Kurasakan" (1998), "Tak Ingin Lagi" (2000), "Ku Akui" (2004), "Star" (2007), dan "Wanita" (2009). Ia juga membintangi sejumlah film dan sinetron, seperti "XL (Extra Large): Antara Aku, Kau dan Mak Erot" (2008), "99 Cahaya di Langit Eropa" (2013), dan "Ayat-Ayat Cinta 2" (2017). Selain itu, Dewi pernah menjadi pemandu acara dalam ajang pencarian bakat "Indonesian Idol" pada tahun 2008.​Musisi FandomInfokuliah+1Musisi Fandom+1

Keputusan Dewi untuk berhijab pada tahun 2012 membawa perubahan dalam peran yang ia pilih dalam industri hiburan, dengan lebih banyak tampil dalam acara-acara bernuansa Islami. Langkah ini mencerminkan kedalaman spiritualitasnya dan komitmennya terhadap keyakinan yang dianutnya.

Dian Sastrowardoyo: Mencari Jawaban atas Pertanyaan-Pertanyaan Mendalam tentang Kehidupan dan Tujuan Manusia


Dian Sastrowardoyo, aktris Indonesia kelahiran 16 Maret 1982, dikenal luas melalui perannya dalam film "Ada Apa dengan Cinta?". Perjalanan spiritualnya menuju Islam dimulai pada usia 17 tahun, saat ia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan dan tujuan manusia. Pertanyaan seperti "Mengapa Tuhan menciptakan semesta dan isinya padahal semuanya akan hancur pada hari kiamat?" mendorongnya untuk mencari pemahaman lebih dalam. Setelah berdiskusi dengan beberapa pemuka agama, Dian menemukan jawaban yang memuaskan dari seorang ustaz yang mampu menjelaskan dengan merujuk pada Al-Qur'an dan Injil. Pengalaman ini membuatnya tertarik mempelajari Islam lebih lanjut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memeluk agama Islam pada usia 21 tahun. ​
suara.comInsertLive

Latar belakang keluarganya yang beragam—ayahnya, Ariawan Rusdianto Sastrowardoyo, beragama Buddha dan ibunya, Dewi Parwati Setyorini, beragama Katolik—memberikan Dian perspektif unik dalam pencarian spiritualnya. Meskipun dibesarkan dalam lingkungan Katolik, pencariannya akan makna hidup membawanya kepada Islam. Keputusannya untuk menjadi mualaf didasarkan pada keyakinan pribadi yang kuat setelah melalui proses pencarian dan refleksi mendalam. ​suara.com

Pengalaman spiritual lainnya yang memperkuat keimanannya terjadi saat ia berada di Bali pada tahun 2002. Setelah insiden Bom Bali, Dian mengalami situasi sulit di bandara saat hendak terbang ke Singapura. Dalam keadaan terdesak dan tanpa bantuan, tiba-tiba seorang pegawai bandara yang tidak dikenalnya membantunya membayar biaya fiskal yang diperlukan. Pengalaman tak terduga ini memperkuat keyakinannya akan keberadaan Tuhan dan pentingnya kepasrahan dalam berdoa. ​suara.com

Melalui perjalanan spiritual yang mendalam dan pengalaman hidup yang signifikan, Dian Sastrowardoyo menemukan keyakinannya dalam Islam, yang kini menjadi bagian integral dari identitas dan kehidupannya.​


Deddy Corbuzier: Masuk Islam Bukan Karena Alasan Pernikahan dan Tekanan



Deddy Corbuzier, lahir dengan nama Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo pada 28 Desember 1976, adalah seorang mentalis, presenter, dan aktor ternama di Indonesia. Ia memulai kariernya sebagai pesulap dan berhasil meraih popularitas melalui berbagai pertunjukan sulap di televisi. Selain itu, Deddy juga dikenal sebagai pembawa acara talk show "Hitam Putih" yang sukses menarik perhatian penonton.​Jawa PosHidayatullah.com

Pada 21 Juni 2019, Deddy resmi memeluk agama Islam. Prosesi pengucapan dua kalimat syahadat dilakukan di Masjid Al Mbejaji, Kompleks Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, Yogyakarta, dengan bimbingan KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah. Momen sakral tersebut disaksikan oleh ribuan jamaah, termasuk Kapolda DIY saat itu, Irjen Pol Ahmad Dhofiri. ​Jawa Pos+1Hidayatullah.com+1

Keputusan Deddy untuk menjadi mualaf bukanlah hal yang tiba-tiba. Ia telah mempelajari Islam secara mendalam selama sekitar tujuh tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk memeluknya. Deddy menegaskan bahwa keputusannya tersebut bukan karena alasan pernikahan atau tekanan dari pihak lain, melainkan murni karena hidayah dan keyakinan pribadi. ​Jawa Pos

Sebelum memutuskan untuk masuk Islam, Deddy meminta restu dari ibunya. Meskipun awalnya terkejut, sang ibu akhirnya merestui keputusan tersebut setelah Deddy meyakinkannya bahwa hubungan keluarga tidak akan berubah. Setelah menjadi mualaf, Deddy merasa perlu terus belajar dan mendalami ajaran Islam, serta tetap menghargai keyakinan agama lain. ​Jawa Pos

Deddy menganggap momen menjadi mualaf sebagai salah satu yang paling indah dalam hidupnya. Ia merasa diberkati dan terharu saat mengucapkan dua kalimat syahadat, terutama karena disaksikan oleh banyak orang yang mendukung keputusannya. ​

Sumber Foto: deddy corbuzier - Search Images

Senin, 17 Maret 2025

Jesse Choi Berkomitmen dalam Keimana yang Sama

 

Jesse Choi adalah seorang investor dan pengusaha keturunan Korea Selatan yang besar di Los Angeles, Amerika Serikat. Ia menempuh pendidikan di South High School dan melanjutkan studi di Columbia University, jurusan Science, Operation Research Economics, lulus pada tahun 2013. Kemudian, Jesse meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Stanford University antara tahun 2019 hingga 2021. ​selebwiki.com

Sebelum menikahi aktris dan penyanyi Indonesia, Maudy Ayunda, Jesse memutuskan untuk memeluk agama Islam. Proses mualafnya berlangsung pada 25 Maret 2022 di Masjid Istiqlal, Jakarta, dibimbing oleh Imam Besar Prof. Nasaruddin Umar. ​selebwiki.com+1lifestyle.sindonews.com+1

Jesse dan Maudy resmi menikah pada 22 Mei 2022 dalam sebuah upacara yang berlangsung di kediaman Maudy di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Mahar pernikahan mereka berupa USD 22.522, yang mencerminkan tanggal pernikahan mereka. ​selebwiki.com+1lifestyle.sindonews.com+1lifestyle.sindonews.com

Keputusan Jesse untuk memeluk Islam sebelum pernikahannya menunjukkan komitmennya dalam menjalin hubungan yang sejalan dengan keyakinan Maudy. Meskipun detail mengenai alasan spesifik di balik keputusannya untuk menjadi mualaf tidak banyak dipublikasikan, langkah tersebut mencerminkan penghormatan dan keseriusannya terhadap hubungan dan keyakinan spiritual yang baru.

Insan Mokoginta Masuk Islam karena Pengusaha Muslim yang Berakhlak Mulia


Insan LS Mokoginta, lahir di Kotamobagu, Sulawesi Utara, pada 8 September 1949, adalah seorang mantan misionaris Kristen yang kemudian memeluk Islam. Latar belakang keluarganya beragam; ayahnya seorang mualaf keturunan Tionghoa yang menikahi perempuan Muslim. Namun, pandangan keluarganya yang menganggap semua agama sama membuat Insan dan tujuh saudaranya bersekolah di institusi Katolik, yang akhirnya membawanya menjadi pengikut Katolik dan dikukuhkan sebagai pendeta dengan nama baptis Wensaslus. ​jaringansantri.com

Pada tahun 1976, saat merantau ke Jakarta, Insan berkenalan dengan seorang pengusaha Muslim yang taat dan berbudi pekerti luhur. Perkenalan ini menumbuhkan ketertarikannya pada Islam. Selama empat tahun, ia secara diam-diam membandingkan ajaran Islam dengan Alkitab dan menemukan berbagai kerancuan serta ketidakjelasan dalam ajaran yang menganut paham trinitas tersebut. Akhirnya, pada tahun 1980, ia memutuskan untuk memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Insan Latif Syaukani Mokoginta. ​jaringansantri.com

Setelah memeluk Islam, Insan Mokoginta aktif dalam dakwah, khususnya dalam bidang kristologi. Ia telah menulis 53 judul buku dan menghasilkan puluhan VCD debat serta kajian kristologi di berbagai daerah. Salah satu karyanya yang terkenal adalah buku berjudul "Berhadiah Mobil BMW, Mustahil Kristen Bisa Menjawab", yang berisi tantangan kepada umat Kristen untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai ajaran mereka. ​kristologinews.comjaringansantri.com+1kristologinews.com+1

Insan Mokoginta juga mendirikan situs KristologiNews.com sebagai pusat kajian kristologi. Situs ini menawarkan berbagai buku dan materi terkait kristologi, serta program pelatihan bagi mereka yang ingin mendalami ilmu ini. ​kristologinews.com

Melalui dedikasinya dalam dakwah dan kristologi, Insan Mokoginta berusaha menyelamatkan akidah umat Islam dari pemurtadan dan mengajak mereka untuk lebih memahami serta mengamalkan ajaran Islam dengan benar.​jaringansantri.com+1kristologinews.com+1

Dondy Tan Masuk Islam Karena Mencari Kitab Suci yang Konsistan

 


Dondy Tan Susanto, yang akrab disapa Koh Dondy, adalah seorang pendakwah mualaf keturunan Tionghoa yang lahir di Melbourne, Australia. Sebelum memeluk Islam, ia menganut agama Kristen Protestan. Perjalanan spiritualnya menuju Islam memakan waktu tujuh tahun penelitian dan pencarian mendalam. ​banyumas24jam.com+5suara.com+5rctiplus.com+5

Ketertarikannya terhadap Islam bermula ketika ia menonton ceramah Ahmed Deedat, seorang pendebat Islam ternama. Ceramah tersebut membahas isi Bible (Alkitab), yang mendorongnya untuk memverifikasi kebenaran informasi tersebut dengan membandingkannya langsung dengan Bible yang dimilikinya. Hasilnya, ia menemukan bahwa beberapa bagian dari kitab suci terdahulunya tidak sepenuhnya merupakan firman Tuhan dan terdapat ketidaksesuaian logis serta ilmiah. Sebaliknya, ia menemukan bahwa Al-Qur'an konsisten, logis, dan sejalan dengan ilmu pengetahuan. ​rctiplus.com+4suara.com+4rctiplus.com+4

Setelah tujuh tahun penelitian intensif, pada 25 Juli 2014, Dondy Tan resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam. Kini, ia aktif dalam dakwah, khususnya dalam bidang kristologi dan kritik teks Bible. Melalui kanal YouTube pribadinya, "Dondy Tan," ia sering mengadakan diskusi lintas agama dan telah berdebat dengan beberapa pendeta terkenal. ​rctiplus.com+3suara.com+3rctiplus.com+3banyumas24jam.com

Selain itu, Dondy Tan juga aktif di media sosial lainnya, seperti Instagram dengan akun @dondy.tan, di mana ia berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam mempelajari serta mengajarkan Islam.

Sabtu, 08 Maret 2025

Richard Lee: Masuk Islam Karena Konsep Ujian Hidup

 


Richard Lee, seorang dokter sekaligus influencer kecantikan ternama, telah menjalani perjalanan spiritual yang mendalam sebelum akhirnya memeluk agama Islam. Perjalanannya menuju Islam bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari pencarian panjang yang didasari oleh keinginan untuk memahami hakikat hidup dan ketauhidan.

Lahir pada 11 Oktober 1985 di Medan, Sumatera Utara, Richard menghabiskan masa kecilnya di Palembang. Ia berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di rumah susun. Meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi, kedua orang tuanya sangat mementingkan pendidikan. Richard kecil bukanlah siswa berprestasi—pada masa SMP, ia pernah berada di peringkat ke-28 dari 32 siswa. Namun, saat SMA, ia mulai menunjukkan peningkatan akademik yang signifikan hingga akhirnya mewakili Kota Palembang dalam Olimpiade Matematika tingkat nasional.

Setelah lulus SMA, Richard melanjutkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, di mana ia berhasil meraih gelar dokter umum. Tidak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan studi dan memperoleh gelar Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Respati Indonesia serta memperdalam ilmu estetika di American Academy of Aesthetic Medicine pada tahun 2017.

Kariernya dimulai sebagai dokter umum di Sinarmas Group di Palembang. Dengan tekad dan kerja keras, ia mendirikan Klinik Kecantikan Athena yang kini memiliki cabang di berbagai kota besar di Indonesia. Selain menjalankan praktik medis, sejak 2018, Richard aktif sebagai konten kreator di YouTube dan TikTok, berbagi edukasi tentang perawatan kulit dan kecantikan, yang membuatnya semakin dikenal luas.

Di balik kesuksesannya, Richard mengalami perjalanan spiritual yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Sekitar dua tahun lalu, ia mulai tertarik mempelajari Islam. Ia berdiskusi dengan beberapa ulama ternama seperti Ustaz Khalid Basalamah, Ustaz Felix Siauw, Ustaz Fatih Karim, Ustaz Faizar, dan Ustaz Nuruddin. Dalam pencariannya, ia mendalami konsep tauhid dan menemukan ketenangan dalam ajaran Islam. Ustaz Derry Sulaiman, yang juga turut membimbingnya, menekankan bahwa proses ini tidak instan, tetapi melalui tahap pembelajaran yang serius.

Richard pertama kali mengucapkan syahadat secara tertutup di Palembang. Kemudian, setahun setelahnya, ia mengulanginya kembali di sebuah restoran dekat bandara. Namun, ia memilih untuk merahasiakan keputusannya selama dua tahun demi menjaga perasaan keluarganya yang non-Muslim serta menghindari anggapan bahwa keislamannya hanya untuk mencari popularitas.

Pada 5 Maret 2025, Richard akhirnya melakukan syahadat ulang yang disaksikan oleh Ustaz Derry Sulaiman dan Ustaz Felix Siauw. Dalam perjalanannya, ia mengungkapkan bahwa sejak mengenal Islam, pandangannya terhadap ujian hidup berubah drastis. “Dulunya aku menganggap ujian hidupku berat. Tapi sejak aku belajar Islam dan sejak aku Islam, aku benar-benar mengubah pandanganku tentang ujian hidup,” ungkapnya.

Perjalanan hidup Richard Lee, dari seorang anak sederhana hingga menjadi dokter sukses dan kini menemukan kedamaian dalam Islam, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dedikasi dan semangatnya dalam mencari kebenaran menunjukkan bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja yang benar-benar mencari dan membukakan hatinya untuk menerima cahaya iman.

Rabu, 10 Juli 2024

Kisah Mualaf Chicha Koeswoyo: Terpanggil Adzan Maghrib

Chicha Koeswoyo, artis cilik yang terkenal di era 70-an dan 80-an, memiliki kisah inspiratif dalam perjalanan spiritualnya. Lahir dari keluarga beda agama, Chicha dibesarkan dengan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati antar keyakinan.

Perkenalan Chicha dengan Islam bermula di usia 16 tahun. Ketika ingin mematikan televisi saat adzan maghrib berkumandang, ia justru kehilangan remote. Kejadian ini mengantarkannya pada momen istimewa.

"Saya cari di sela-sela sofa, angkat semua bantal, dan periksa kolong meja, tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya saya menonton adzan maghrib," ungkapnya.

Mendengarkan lantunan adzan maghrib membawa kedamaian bagi Chicha. Ia merasakan ketenangan dan kelembutan dalam hatinya. Sebuah suara pun seolah berbisik di telinganya, "Sampai kapan kau mengabaikan panggilan-Ku? Masihkah kau terus berpaling dari Aku?"

Pengalaman tersebut membangkitkan rasa haru dan kebingungan dalam diri Chicha. Berbagai emosi bercampur aduk, membuatnya mantap untuk mencari tahu lebih dalam tentang Islam.

Bersama adiknya, Chicha mulai mempelajari agama Islam. Mereka membeli Alquran, tafsirnya, mukena, dan buku tuntunan sholat. Dengan penuh semangat, Chicha mempelajari wudhu dan menghafal bacaan sholat.

Setelah mantap dengan keyakinannya dan mendapat restu dari sang ibu, Chicha Koeswoyo memantapkan diri untuk memeluk Islam pada tahun 1984 di Masjid Al Azhar.

"Dengan hati tenteram, saya menjalani hidup sebagai perempuan Muslim," tuturnya.

Kisah mualaf Chicha Koeswoyo menjadi bukti bahwa hidayah dapat datang kapanpun dan dimanapun. Keberaniannya untuk mengikuti panggilan hati dan mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh menjadi inspirasi bagi banyak orang. 

Sumber: Kisah Mualaf Chicha Koeswoyo, Dapat Hidayah Islam ketika Dengar Adzan Maghrib : Okezone Muslim

Paras Kampungku

Delfano Charies Rieyan: Merasakan Kedamaian dan Makna Hidup yang Sesungguhnya

  Delfano Charies Rieyan, dikenal sebagai Delfano Charies atau Fano, adalah seorang YouTuber dan pengusaha asal Semarang, Indonesia, yang ...